Smelting Mini Project

Hasil yang kurang memuaskan pada semester yang berakhir di bulan juni 2012 sudah mulai tidak terasa lagi, karena pada saat yang bersamaan sedang menjalani “mini Project” yang saya kerjakan sendiri pada sebuah perusahaan ekstraksi tembaga satu-satunya di Indonesia.

ada beberapa orang yang juga sedang menjalani studi maupun mini project seperti yang saya jalani. akan tetapi, kita mengerjakan pekerjaan dengan tema yang berbeda-beda. jadi intinya project kita kerjakan sendiri-sendiri.

entah kebetulan seperti apa ini, ternyata saya dan heriyon yang berasal dari UI sekosan dengan 2 anak Gajah. hahahha, anak Gajah

kebetulan yang entah awalnya disesali atau harus disyukuri. 😀 tibalah hari pertama kami di terima dengan menitipkan KTP dan mengalungkan ID yang bertuliskan “guest” .  menemui pak Eko Ricu Susilo yang merupakan senoir engineer. Beliau adalah pembimbing kami UI Mt’90an, dan juga mister marco Brachtomo engineer Metal ITB ’06 sebentar bertemu beliau ruang tunggulah yang siap melahap kami dalam kebosanan dan ketidaknyamanan yang terus saya fikirkan, apalagi bersama anak Gajah. hahaha….

eh ternyata semua yang saya bayangkan di ruang tunggu VIP room yang kotaknya sudah bertulis occupied pecah oleh canda saling ejek hal yang berbau rasis sebenernya hahahha. :D. gelas demi gelas dari mulai es Milo (minuman paling disenangi) es jeruk dan susu mulai menguap beriringan dengan kebosanan yang ternyata kadang terjadi dan tidak.

gemertak suara pintu memaksa canda kami terhenti begitu juga musik yang coba dilantunkan dengan dentuman klasik yang mengiringi proses rasisme yang sedang terjadi, bisa dibilang anak gajah menyenangkan tidak seperti yang teman-temanku katakan melalui berbagai media saat UI bertemu anak Gajah (ganti ITB aja deh ga enak kalo ke baca.)  Pak Djoko sosok yang kami damba-dambakan dalam kebosanan pun akhirnya datang bersama kamera yang telah ditentengnya. bergantian kami di suruh menepi ke dinding untuk diberikan kilatan cahaya yang memaksa kami tersenyum agar terlihat tampan. 😀

menunggu lagi itulah jadwal selanjutnya. setelah menuliskan ukuran sepatu, baju, celana dan perlengkapan safety lain. sejam kemudian bapak-bapak petugas yang samapai sekarang saya tidak mengetahui namanya melemparkan sekarung pakaian dan perlengkapan safety kepada kami. bergaya-gaya dengan pakaian safety yang baru saja kami terima ditemani jilatan-jilatan flash yang tentu setiap orang melakukannya untuk mengganti PP, DP atau apa lah namanya. hahahaha.

yah hanya itulah yang kami kerjakan di perusahaan seharian.

hari ke 2, ID card dengan foto tampan, bertuliskan mahasiswa metalurgi UI dan ITB  menemani hari kami tanpa kalung bertulis “guest” lagi.

pemaparan demi pemaparan kami terima, dari mulai safety, environment, sejarah perusahaan, dan proses yang terjadi telah terlahap walau dengan rasa yang berbeda-beda. saat ini rasa-rasa itu sudah lupa lagi. alias lupa 🙂

tour plant pun menjadi agenda kami selanjutnya sebelum kami dibebaskan tugaskan hari itu. jetty, storage, smelter furnace, anode furnace, caster sampai refining pun kami jelajahi. setiap tempat mempunyai tingkat keamanan yang berbeda-beda. refining process adalah tempat yang paling ketat pengamananya karena selain copper cathode yang dihasilkan, dihasilkan juga platina, emas, perak dalam bentuk slime yang pengolahanya dilakuakan di negara asal kaisar Hirohito.

Image

hari ke 3.

pemberian tema project adalah saat yang paling penting kami dengarkan. akan tetapi, sampai hari ke 3 tema belum kami terima. hanya dari mister Marco Brachtomo saja kami sedikit mendengar kira-kira tema apa yang akan kami terima dan kerjakan. hari ke 3 pun berakhir mengecewakan dan membosankan. hahahha (bagi gw membosankan)

Image

to be continue…….

Advertisements

Toyota Motor Manufacturing Indonesia

Toyota Motor Manufacturing Indonesia. Plant Toyota yang terletak di sunter Jakarta merupakan salah satu plant Toyota yang memproduksi part-part untuk mobil Toyota maupun Daihatsu.

Di dalam plant Toyota ini dilakukan beberapa proses produksi yaitu,

• Casting plant
• Stamping Plant
• Engine plant
• Die making
• Dan lain-lain.

Plant Toyota yang mempunyai luas 65.028 m2 ini melakukan prosesnya dari mulai peleburan sampai drying, adapun fasilitas yang digunakannya adalah Induction holding furnace, overhead furnace, sand blasting, sand mixer, sand reclaimer, vacuum sand conveyor, drying oven.

Kemudian proses dilanjutkan pada stamping plant untuk membentuk plat-plat menjadi bentuk yang diinginkan. Penggunaan press machine yang digunakan adalah dari 60-1500 ton.

Proses lain yang ada pada plant Toyota ini adalah untuk membuat mesin dan tools yang digunakan selama proses. Pembuatan tools sendiri menggunakan bentuk cetakan awal dalam bentuk stirofoam yang akan menguap pada saat dilakuakan pembentukan tools tersebut.

Kemudian pada Engine plant terdiri dari dua bagian yaitu Machining line dan assembling line.  Proses terakhir yang dilakukan oleh Toyota setelah finishing masing-masing part nya adalah dilakukan packing dan vanning, dimana Plant Toyota ini mengirimkan part yang telah dibuatnya untuk di assembling di plant Toyota lain di dalam negeri, maupun di Export dari Asia, Eropa, Amerika Selatan.

Assab Steel Indonesia

Assab Steel Indonesia merupakan suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang pengadaan Tool Steel untuk Indonesia yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.

Adapun yang kami kunjungi adalah Assab Steel Indonesia yang terletak di Jakarta.  Assab Steel merupakan supplier tool steel yang mengimport bahan baku tool steel nya dari Swedia, kemudian berdasarkan pesanan, Assab memotong-motong ukuran tool steel import tersebut sesuai dengan kebutuhan,  Beberapa konsumen hanya memesan  tool steel sesuai ukuran baik berupa silinder pejal maupun dalam bentuk kubus atau balok. Selain pesanan itu juga, Assab menawarkan beberapa paket tool steel yang sampai pada proses grinding.

Adapun proses sampai grinding tersebut adalah setelah tool steel import dari Swedia tersebut di Cutting, kemudian di milling dan selanjutnya dilakukan Grinding.  Sehingga, berdasarka pesanan konsumen, Assab memberikan paket yang hanya cutting sesuai ukuran dan juga ada yang sampai dilakukan grinding.

Barang pesanan yang sudah dibentuk menjadi dies oleh konsumen, kemudian dikembalikan lagi ke Assab untuk dilakukan Heat treatment yang bertujuan untuk menambah sifat mekanik dari tool steel tersebut.  Ada dua macam metode Heat treatment yang ditawarkan Assab. Yaitu dengan menggunakan system vacuum, maupun yang menggunakan Fluidized Bed denga bantuan pasir silica.

Selain dilakukan kedua cara tadi, Assab juga melakukan metode Shootblasting yang juga dilakukan untuk menaikkan atau mengoptimalkan sifat mekanik dari tool steel tersebut.

Beberapa produk yang dijual oleh Assab Steel Indonesia sendiri adalah antara lain:

• Cold Work Tool Steels
• Plastic Mould Materials
• Hot Work Tool Steels
• High Speed Steels
• Machinery Steels

PT Smelting Gresik

PT Smelting Gresik adalah Pabrik pengolahan biji tembaga menjadi tembaga murni, dengan tingkat kemurnia sampai 99,99%. terletak di kabupaten gresik jawa timur. proses pengolahan yag dilakukan disini adalah dengan menggunakan metode mitsubishi proses yang dikembangkan pada tahun 1970-1980 yang merupakan metode paling modern dalam pengolahan tembaga. dan hanya ada 5 pabrik di dunia ini yang menggunakan mitsubishi proses ini. dan salah satunya adalah di PT Smelting Gresik ini.

Proses pengolahan di PT. Smelting Gresik terdiri dari 2 proses, yaitu proses Pyrometalurgy dan Electrometalurgy. Pada proses smelter di PT Smelting, mereka menggunakan Mitshubishi proses, dimana proses ini adalah proses yang bekerja secara kontinyu. Karena  proses kontinyu tersebut, semua proses berjalan secara tertutup, dan dengan begitu proses ini dapat mengurangi polusi dan pencemaran lingkungan. Proses kontinyu  ini memiliki 3 tahapan  furnace, yaitu Smelting furnace lalu berlanjut ke Slag Cleaning furnace dan terakhir baru ke converting furnace. Ketiganya dihubungkan oleh  launder  yang tertutup yang akan dilewati oleh molten material yang ditransfer dari satu furnace ke furnace selanjutnya dengan memanfaatkan gravitasi.

Gambar 1. Tiga rangkaian furnace dalam Mitshubishi Process letaknya bertingkat-tingkat

 

Pada Smelting furnace, yang dimasukkan adalah konsentrat kering, flux berupa pasir silikat, batubara, slag hasil converting furnace dan recycling dust. Semuanya dimasukkan dengan sistem pneumatic conveying. Konsentrat dengan komposisi Cu: 30%, S: 30%, Fe: 25%, Gangue minerals 15% akan dimasukkan kedalamnya melalui apa yang disebut lance pipe. Lance pipe ini berguna pula untuk memberikan semacam aliran kuat yang mengakibatkan molten metal akan seperti teraduk secara alamiah. Pada proses di smelting furnace, konsentrat tadi akan teroksidasi dan melting dengan reaksi eksotermik. Reaksi eksotermik akan menghasilkan panas nantinya akan dikumpulkan dan akan dijual dalam bentuk uap.  Molten metal yang masih tercampur dengan slag akan di transfer ke furnace selanjutnya, yaitu Slag Cleaning furnace.

Proses pada Slag Cleaning furnace adalah molten metal berisi matte dan slag ditransfer dari Smelting furnace melalui launder akan dipanaskan oleh dua buah set elektroda. Dengan proses yang terjadi, maka matte yang disana mengandung Cu sebanyak 68% akan terpisah dengan slag dengan memanfaatkan prinsip perbedaan berat jenis. Slag akan overflow,  kemudian akan dikirrim ke industri semen sebagai bahan campuran pembuatan semen. Sedangkan matte akan berlanjut ke converting furnace melalui launder.

Ada hal yang perlu diperhatikan di slag cleaning furnace, yaitu kita harus menjaga agar tidak terbentuknya Fe3O4. Terbentuknya Fe3O4 akan mengakibatkan terbentuknya lapisan diantara slag dengan matte. Lapisan Fe3O4 mengakibatkan matte tidak dapat terpisah menjadi underflow. sehingga  molten metal yang berasal dari Smelting furnace akan ikut terbuang akibat adanya lapisan itu. Pada Converting furnace, matte yang dialirkan melalui launder dari slag cleaning furnace akan dicampur dengan limestone dan slag hasil converting furnace akan direaksikan dengan udara yang kaya oksigen. Dari hasil reaksi itu akan menghasilkan blister copper dengan kandungan 98.5% Cu dan slag yang mengandung 14% Cu. Blister copper akan terpisah berdasarkan prinsip perbedaan berat jenis. Blister copper akan diteruskan ke anode furnace dengan mengunakan system switching launder. Dan slag akan dikembalikan ke proses smelting furnace untuk diolah kembali.

Gambar 2.  Layout Smelter Process pada PT Smelting Gresik

Pada proses smelting, concentrate yang dimasukkan adalah konsentrat kering. Untuk membuat konsentrat kering, pada PT. Smelting Gresik terdapat Concentrat dryer, dimana medianya juga ada yang berasal dari hasi lain proses pengolahan seperti hot air hasil dari acid plant, dan gas buangan dari anode furnace. Keduanya ditambah oleh natural gas sebagai media untuk mengeringkan konsentrat. Pada concentrate dryer terdapat bag filter yang fungsinya untuk menangkap dust yang nantinya berguna untuk proses pengolahan di smelting furnace.
Kemudian, slag-slag yang dihasilkan juga tidak dibuang begitu saja, pada proses mitshubishi, ada 2 kali proses yang menghasilkan slag, yaitu Slag cleaning furnace dan Converting furnace. Keduanya keluar dengan cara overflow akibat perbedaan berat jenis. dan setelah keluar dari furnace, keduanya akan diproses granulasi di slag granulation. Dan nantinya slag dari smelting furnace akan di kirim ke industri semen, sedangkan slag converting furnace  akan diolah kembali di smelting furnace.

Proses pada anode furnace, dimana  material input berupa blister copper yang ditransfer menggunakan launder yang switching. Pada anode furnace, proses yang terjadi pada blister adalah oksidasi dan reduksi. Proses ini bertujuan agar terproduksi refinery copper yang akan siap di casting pada proses selanjutnya. Proses oksidasi terjadi dengan meniup udara dan oksigen pada furnace ini dan bertujuan untuk mengurangi kadar sulfur hingga 0.05%, sedangkan proses reduksinya dengan cara meniupkan agen pereduksi adalah bertujuan untuk mengurangi kadar oksigen sampai angka 0.15%.

Dengan banyaknya proses diatas yang menghasilkan gas, maka PT. Smelting Gresik memiliki pengolahan gas hasil dari pengolahan logam. Pada smelting dan converting furnace, ada beberapa pengolahan gas hasil proses. Yang pertama adalah gas akan melewati waste heat boiler, ini bertujuan untuk mengambil panas sehingga menghasilkan uap. Nantinya uap ini akan berada di tangan konsumen. Kemudian gas tersebut akan melewati electrostatic precipitator yang berguna untuk menangkap dust yang terikut ke gas. Kemudian dust ini akan dimasukkan kembali saat smelting furnace. Selanjutnya gas akan di alirkan ke acid plant yang selanjutnya akan diproses menjadi produk yang punya nilai ekonomi yaitu asam sulfat. Sedangkan pada anode furnace, gas pada saat oksidasi akan dikirimkan langsung ke acid plant  untuk dibuat asam sulfat, sedangkan pada proses holding dan reduksi akan dikirim ke concentrate dryer untuk sebagai media mengeringkan konsentrat.

Gambar 3.  Anode Copper pada Hazelett Process

 

Tahap akhir smelter pada PT Smelting Gresik yang menggunakan metode Mitsubishi process adalah casting. PT Smelting Gresik menggunakan teknologi casting dari inggris yang dinamakan Hazelett Caster. Proses ini berlangsung dalam 2 tahap dimana pertama-tama refined copper akan di tuang secara kontinyu kedalam copper strip oleh sebuah Hazelett Twin Belt Caster. Lalu, continuous copper strip tadi akan dipotong menjadi potongan anoda oleh hydraulic shearing machine. Maka keluarlah hasil smelter PT Smelting Gresik berupa Anoda tembaga. Dan akan dilanjutkan ke proses refining.

Proses akhir dari pengolahan tembaga di PT Smelting adalah proses refinery yang menggunakan ISA Process. Pada proses ini, tembaga hasil dari smelter yaitu berupa anoda akan di elektrorefining dengan proses elektrolisis menggunakan Stainless Steel (SS) Blank sebagai katodanya, sedangkan elektrolitnya adalah CuSO4-H2SO4-H2O. proses ini nantinya diharapkan akan diperoleh katoda tembaga dengan kandungan 99.99% dari anoda yang kandungannya sekitar 99% serta memisahkan logam berhgarga seperti Au Ag dan Pt menjadi Slime. Prinsip prosesnya adalah Anode copper dan SS Blank akan diletakkan di sebuah sel elektrorefining, lalu dialiri arus DC sehingga tembaga pada anoda akan terlarut dan kemudian akan terdeposit ke Katoda. Prosesnya adalah sebagai berikut:

  1. Copper anode akan diletakkan diantara SS Blank yang terceelup didalam larutan elektrolit,
  2. SS Blank akan ditarik setelah 7 hari untuk mengambil sekitar 50 kg katoda x 2 sisi, lalu dibenamkan kembali hingga hari ke 20 dan diambil hingga 100 kg x 2 sisi per SS blank. Dan setelah 20 hari, anoda diganti dengan yang baru, sedangkan scrap anoda tadi akan dikembalikan ke proses smelter. Dan larutan elektrolit akan dibersihkan kembali.
  3. Pelat tembaga yang terdeposit pada SS akan dipisahkan lalu dicuci di CWSM (Cathode Washing and Stripping Machine)
  4. Plat Katoda akan dipacking untuk selanjutnya siap di di distribusi ke konsumen.

Gambar 4. Proses ISA

Itulah proses yang terjadi di PT Smelting Gresik. Proses itu bisa dianggap sebagai proses pengolahan tembaga yang paling ramah lingkungan. Beberapa faktor yang menunjang Proses diatas menjadi proses yang ramah lingkungan adalah :

  1. Proses Mitshubishi berlangsung tertutup. Dengan begitu hasil sampingan dari proses akan lebih mudah dikontrol dan tidak begitu saja keluar hingga mencemari lingkungan
  2. Tata ruang Plant yang terintegrasi dengan beberapa plant untuk mengolah hasil sampingan sehingga hasil samping tidak begitu saja dibuang, tetapi dapat diproses hingga menghasilkan sesuatu yang punya nilai ekonomis. Beberapa hasil yang dikirim ke plant lain adalah Uap ke power plant untuk menghasilkan listrik, Gas SO2 yang dikirim ke Acid plant untuk dijadikan Asam Sulfat, Scrap tembaga hasil smelting furnace  ke pabrik semen, anode slime hasil dari refinery yang punya nilai tinggi karena didalamnya terdapat Au, Ag dan Pt.
  3. Selain terintegrasi dengan plant lain, beberapa hasil sampingan juga bisa dapat dijadikan bahan baku ataupun bahan tambahan selama proses pengolahan, misalnya slag pada converting furnace yang dikirim kebali ke smelting furnace untuk diolah kembali.
  4. Adanya Waste Water Treatment Plant (WWTP) yang difungsikan untuk mengolah limbah dari proses sebelum dibuang. Dari plant inipun dapat dihasilkan gypsum yang bisa dijual. Dan dengan adanya treatment sebelum dibuang, maka limbah yang dibuang dapat dikontrol kandungannya agar tidak mencemari lingkungan.

Edit and Arrange by: teguhimamburhanudin
Sumber: PPT PT. Smelting Gresik, http://nurazizoctoviawan.blogspot.com/2010/08/proses-pengolahan-tembaga-di-pt.html

History of Damascus Steel

Saat Perang Salib itulah, peradaban Barat mulai mencari rahasia teknologi tempa baja yang dikuasai dunia Islam. Tentara Perang Salib menyebut baja yang hebat dari Damaskus itu dengan sebutan Damascus Steel. Teknologi pengolahan besi dan baja Damaskus kesohor karena mampu menempa dan mengeraskan wootz steel menjadi indah dan lentur.

Dunia Islam dikenal memiliki kandungan sumber daya alam yang melimpah ruah. Salah satu sumber mineral yang memiliki arti penting dalam sejarah teknologi Islam adalah besi dan baja. Di era kejayaan Islam, berkembang pesat teknologi pengolahan besi dan baja serta seni membuat pedang.

Salah satu sentra pembuatan pedang dengan teknologi yang termasyhur di zaman kekhalifahan adalah Damaskus, Suriah. Seni pembuatan pedang dengan teknologi tinggi dalam peradaban Islam dimulai pada abad ke-9 M. Sejarawan Al-Qalqashandi dalam buku berjudul, Subh Al-A’sha, menuturkan pada abad ke-12 M Damaskus menjadi sentra pengolahan besi dan baja yang sangat termasyhur.

 

Pada masa itu, Damaskus berada dalam kekuasaan Dinasti Ayyubiyah. Ibnu Asakir (wafat pada 1177 M) dalam bukunya berjudul, Sejarah Kota Damaskus, juga mengisahkan kota yang sempat menjadi ibu kota Dinasti Umayyah pada abad ke-7 M dan 8 M itu sebagai pusat pembuatan pedang yang kesohor.

Baja Damaskus dikenal sangat keras dan teksturnya yang indah dihiasi ornamen garis bergelombang (firind). Pedang buatan Damaskus yang kerap disebut sebagai pedang Persia sangat lentur dan ulet. Kehebatan pedang dari dunia Islam sempat membuat peradaban Barat terperangah dan terkagum-kagum.

Salah satu faktor penyebab kekalahan pasukan Tentara Perang Salib dari Eropa ketika bertempur melawan tentara Muslim adalah peralatan tempur. Selain memiliki kuda-kuda yang tangguh di medan perang, pasukan tentara Muslim juga dilengkapi dengan pedang yang mampu membelah manusia dengan satu kali tebasan.

Pedang Persia sungguh sangat mengagumkan. Ia mampu memotong sutra yang dijatuhkan dari udara. Tak cuma itu, pedang buatan Damaskus juga sanggup mematahkan bilah pedang lain atau batu tanpa hilang ketajamannya. Alkisah, saat Perang Salib berkecamuk, Raja Richard The Lionheart sempat memamerkan kehebatan pedangnya kepada Salahudin Al-Ayubi—panglima pasukan tentara Muslim.

Dengan penuh arogan Richard menebaskan pedangnya pada sebuah baja. Dalam satu kali tebas an, pedang Richard ‘Berhati Singa’ mampu membelah baja itu. Salahudin pun tersenyum dan ke mu dian melemparkan kain sutra ke uda ra. Lalu, pedang yang disandang nya dihunuskan. Ketika me nge nai bilah pedang Saladin, kain sutra itu terpotong menjadi dua.

Kisah itu menunjukkan betapa pedang yang dibuat peradaban Islam sungguh luar biasa tajamnya. Saat Perang Salib itulah, peradaban Barat mulai mencari rahasia teknologi tempa baja yang dikuasai dunia Islam. Tentara Perang Salib menyebut baja yang hebat dari Damaskus itu dengan sebutan Damascus Steel. Teknologi pengolahan besi dan baja Damaskus kesohor karena mampu menempa dan mengeraskan wootz steel menjadi indah dan lentur.

Seni membuat pedang di era kejayaan Islam mendapat perhatian khusus dari peradaban Barat. Secara khusus, Robert Hoyland dan Brian Gilmore menulis buku bertajuk, Medieval Islamic Swords and Swordmaking. Buku setebal 216 halaman itu mengupas risalah yang ditulis ulama Muslim terkemuka pada abad ke-9, M Ya’qub Ibnu Ishaq Al-Kindi, tentang ‘Pedang dan Ragam Jenisnya’.

Risalah yang ditulis Al-Kindi itu berisi informasi teknologi pembuatan pedang. Secara khusus, Al- Kindi juga mengklarifikasi beragam jenis besi dan baja untuk membuat pedang. “Pedang itu terbuat dari dua jenis besi, yakni alami (yang ditambang) dan tak alami (buatan),” papar Al-Kindi.

Besi alami, menurut Al-Kindi, terbagi menjadi dua. Ada yang dinamakan Shaburqan atau besi laki-laki—ini adalah jenis besi keras yang diolah dalam kondisi panas. Jenis yang kedua adalah Narmahin atau besi perempuan— ini adalah besi yang lembek yang tak dapat diolah dalam kondisi panas.

“Pedang dapat ditempa dari salah satu jenis besi ini atau gabungan keduanya,” ungkap Al- Kindi. Karena itu, menurut Al- Kindi, pedang yang terbuat dari besi alami terbagi menjadi tiga jenis: shaburqani, narmahani, dan gabungan keduanya. Al-Kindi menyebut besi yang tak alami sebagai fuladh.

Besi buatan atau tak alami terbuat dari proses penyulingan dan pemurnian. Besi jenis ini juga dikenal sangat kuat, fleksibel, dan dapat diolah dalam keadaan panas. Al-Kindi membagi kualitas besi ke dalam tiga jenis. “Kualitas besi itu terbagi menjadi tiga macam; antique (kuno), modern, nonantique (tak kuno), dan nonmodern (tak modern).

‘’Pedang dapat ditempa dari semua jenis besi dan baja ini,” ungkap Al-Kindi. Menurut Al- Kindi, jenis besi atau baja yang paling berkualitas tinggi adalah jenis antique (kuno). “Antique tak ada kaitannya dengan waktu atau usia, namun itu mengindikasikan kemurnian kualitas.” Menurut dia, pedang yang berkualitas tinggi itu terbuat dari besi atau baja jenis antique.

Kualitas pedang antique juga terbagi menjadi tiga jenis. Yang paling berkualitas tinggi dinamakan Yemenite. Kualitas nomor dua disebut Qal’i dan yang ketiga disebut Indian. Pada era kejayaan Islam, pedang-pedang yang dibuat para pandai besi di dunia Islam juga ada yang bahannya diimpor dari Sarandib (kini wilayah Srilanka). Sedangkan pedang asli dari dunia Muslim, besi dan bajanya berasal dari Khurasan, Basrah, Damaskus, Mesir, dan Kufah.

Ilmuwan Muslim lainnya yang menguasai teknologi pembuatan pedang adalah Abu Al-Raihan Al- Biruni (973 M-1048 M). Secara khusus, ia menulis kitab berjudul, Al-Jamahir fi ma`rifat al-jawahir. Dalam karyanya itu, Al-Biruni menggambarkan proses karbonisasi besi tempa dan pembuatan baja dari besi tuang.

Kitab lainnya yang mengupas tentang pembuatan pedang adalah Kitab Al-hadid (Kitab tentang Besi) yang ditulis Al-Jildaki. Ahli kimia asal Mesir itu mengungkapkan begitu banyak informasi seputar tingkat kemampuan masyarakat Muslim di era keemasan dalam pengolahan besi dan baja.

Prof Ahmad Y Al-Hassan dalam tulisannya berjudul, The Origin of Damascus Steel In Arabic Sources, mengungkapkan hampir semua pedang di dunia Islam terbuat dari ‘Besi Damaskus’. Salah satu ciri khas pedang dari Damaskus dihiasi dengan pola hias (firind). Menurut Al-Kindi, firind dapat ditemukan dalam semua jenis besi buatan. Sedangkan, pedang yang terbuat dari besi alami tak memiliki pola hias atau firind. Al-Biruni dalam kitabnya Al-jamahir secara menarik menjelaskan latar belakang dibalik pembuatan pola hias pada pedang.

Besi dalam Alquran

Besi mendapat tempat yang khusus dalam kitab suci Alquran. Secara khusus, surat ke-57 mengambil nama Al-Hadidyang berarti besi. Kata Al-Hadiddiambil dari ayat 25 surat tersebut. Dalam ayat itu, Alquran secara jelas mengungkapkan bahwa besi memiliki kekuatan dan sangat bermanfaat bagi manusia. Dengan besi itu, umat Islam bisa menolong agama Allah.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa buktibukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Alkitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padahal Allah tidak dilihatnya.

Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. (QS Al-Hadid: ayat 25).Selain itu, Alquran juga menggambarkan proses pengolahan besi. Dalam surat Al-Khafi (gua) ayat 96 Allah SWT berfirman, “Berilah aku potongan-potongan besi.” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain, “Tiuplah (api itu).” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu”.

Teknologi pengolahan besi tampaknya telah dikuasai manusia sejak zaman Nabi Daud AS. Hal itu terungkap dalam surat Al- Anbiyaa’ (Nabi-nabi) ayat 80. Dalam surat itu Allah SWT berfirman, “Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu. Maka, hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).

Fakta lainnya yang menyebutkan pengolahan besi yang telah berkembang di zaman Nabi Daud AS juga dengan diungkapkan dalam surat Saba’ (Kaum Saba) ayat 10. “Dan sesungguhnya telah Kami berikan ke pada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman), “Hai gunung-gunung dan burung-bu rung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud,” dan Kami telah melunakkan besi untuknya.”

Dalam surat Saba’ ayat 11, Alquran juga memerintahkan dan menjelaskan cara membuat baju besi. “Buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya, dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.”

Paling tidak, terdapat sembilan ayat dalam Alquran yang membahas dan menjelaskan tentang besi. “Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya). (QS An-Nahl: ayat 81).